Me and Money

Siang itu saya pergi ke JNE. Papa nyuruh si STNK segera dikirim karna nyawanya hampir habis. Jadilah saya berpanas-panas terik mengendarai si motor, meluncur ke konter JNE. Karna saya dari kampus, jarak ke JNE mungkin hanya sekitar 500 meter. Tapi, si panas terik ini bikin saya mengumpat-ngumpat sepanjang jalan. Baju saya basah oleh keringat. Kerudung saya apalagi, warna abunya saling berlainan satu sama sisi.

Bah! Jogja makin ngerik saja, pikir saya.

Sampai di JNE, ternyata saya masih harus antri. Urutan ke sekian katanya. Sambil mengantri, mata saya jelalatan. Ada satu konter pojok yang rame dengan penggemar. Oo itu kasir rupanya. Oo mereka memegang the botol. Oo mereka kepanasan. Kalau dibuat sekema:

Kepanasan – teh botol – kasir

Saya juga kepanasan ini, harusnya saya beli the botol juga sajalah. Tapi giliran saya sudah tiba rupanya, si the botol sempat terlupa. Saya tulis nama, bungkus si STNK! Saya buka dompet hendak membayar. Tapi, embak itu beralih sejenak. Si embak yang melayani saya, juga melayani orang di sebelah saya, seorang bapak dengan banyak amplop yang harus dikirim ke madiun.

Bapak: regular aja berapa mbak?

Embak: 20 pak dua hari

Si bapak mikir

Bapak: kalau perangko saja bisakah?

Embak: bias tapi ga bias dilacak. Perangko berapa?

Si bapak mandang duit 50 ribu ditangannya.

Bapak: yang 3000 aja mbak

Embak: dikali Sembilan surat jadinya 27 ribu ya pak

Bused, pikir saya. Saya ini harusnya bersyukur masih bisa naik motor ke JNE. Masih bisa beli teh botol kalau saya mau. Masih bisa ngirim STNK tanpa harus pake perangko.

I mean, coba lihat bapak di sebelah saya itu. Dia hanya punya selembar 50 ribu buat ngirim surat. Belum tentu pulang dari ngirim surat dia bisa makan, belum tentu pulang ngirim surat dia bisa beli bensin. Saya ini, mengirim surat sejarak 500 meter saja mengumpat sepanjang jalan. Menyesalkan si terik matahari. Menyalahkan karna semua pakaian saya jadi basah karenanya.

Saya ini seperti di tegur. Saya ini harusnya malu.

Jadilah saya tunggu si bapak itu pulang, lalu saya bilang sama embak

Saya: berapa jadinya ke Kalimantan embak?

Embak: 45 ribu embak

Nominal yang hampir sama. Dengan kebutuhan yang berbeda. Dengan jumlah syukur yang berbeda pula.

Saya serahkan uang tersebut. Menyimpan kembaliannya rapat-rapat. Sungguh, se receh uang itu tetap berharga!

Advertisements

0 Responses to “Me and Money”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




M.E

crak crek cruak grauk! i love architecture mostly like wanna eat them everytime :P

F.I.N.D.M.E

K.LIK.KLO.K

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

T.W.E.E.T

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.


%d bloggers like this: