R.I.P

Jogja sedang panas-panasnya.

Dulu, waktu di bali, saya selalu berasumsi tidak ada yang dapat mengalahkan teriknya bali. Bagi saya panas bali itu merupakan sesuatu yang mengerikan. Ngerik! Ketika hanya dengan memandang sekitar saja, saya ikut merasa terbakar. Ngerik! Waktu pakaian yang saya pakai tak mampu melindungi bahkan semakin panas saja. Ngerik! Ketika kulit saya hitam kemerahan padahal saya sudah memakai apapun agar matahari itu tidak membakar kulit saya.
Teman saya bilang, bali itu hitam eksotis. Ibaratnya, kalau bali hujan dan dingin bukan bali namanya.
Tapi bagi saya sama saja. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik adanya. Cuaca dan suhu yang kelewat panas nyatanya nggak bisa bikin saya terlihat nyaman.
Hari itu saya pulang kuliah. Kemaleman seperti biasa. Berkejar-kejar dengan waktu jam malam kosan saya. Ritual pulang adalah melempar tas, menyalakan kipas angin dan mengganti baju. Tapi menjadi lebih beringas saat suhu disekitar saya sedemikian panasnya. Menggunakan kerudung membuat kepala serasa terbakar. Tapi dengan rambut saja, panas ini tak kunjung mereda. Jadilah saya mencari benda sakti yang slama ini membantu saya.
Dan saya tergesa. Dan benda itu patah. Krek!


Saya tau itu hanya barang murah. Tapi di saat-saat seperti ini, harganya luar biasa mahal bagi saya.
Saya kemudian menyimpulnya. Mencoba memberikan penghormatan terakhir atas jasa-jasanya selama ini dalam meringankan beban (poni) saya.

R.I.P
Bando merah saya
17-02-10

Advertisements

0 Responses to “R.I.P”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: