Urban House

lagi2 lomba dimasa lampau..

berkisah tentang sebuah rumah dengan lokasi site di daerah urban (exm: jakarta). pertimbangan desain adalah menfungsi gandakan lantai pertama dan meletakan segala important activity pada level selanjutnya. pemilihan warna kuning berupaya memberikan kesan freshly ditengah segala ‘keribetan’ sebuah ruang luar. transparan menjadi pilihan agar terjadi dialog langsung antara outdoor dan indoor

layot12

urban housing

Pemikiran ini lahir dari isu-isu yang muncul mengenai Urban Housing. Mengingat ‘praktis’ adalah kata terakhir yang ingin dicapai, maka desain ini dibuat secara flexibel untuk kemudian mengeluarkan sesuatu yang efisien. Flexibelitas diciptakan dalam ruang-ruang dalam untuk memberikan kesan semu dan berupa sesuatu yang mampu menghilangkan batasan yang ada. Namun berupa pula magic instant ketika pada akhirnya kita membutuhkan ruang tersebut.

Batasan yang ada menjadi sesuatu yang kasat mata saat desain ini mencoba meminimalisir perletakan interior yang tidak perlu. Secara nyata, ‘mereka’ disembunyikan dengan selubung panel yang apik. Point utama adalah pemanfaatan ruang dibawah tangga. Ruang kosong tersebut bertransformasi menjadi area servis (kamar mandi) serta rak-rak serba guna yang disamarkan melalui cermin.
Pembagian zona dilakukan dengan cara leveling. Groundfloor menjadi ruang intensitas bagi orang tua terutama ayah. Nuansa cozy pada ruang kerja dihadirkan melalui taman yang berada di sisi barat. Level up menjadi hak milik si anak, namun sewaktu-waktu dapat pula menjadi multimedia mini. Disini juga terjadi permainan ‘ruang selubung’ dan memiliki fasad selaras dengan lemari tangga.
Terlepas dari itu semua, warna kuning hadir sebagai penetral antara dingin dan hangat. Semakin modern dan sederhana saat melakukan kolaborasi kontras terhadap bukaan-bukaan fasad. Groundfloor diangkat 1 meter dari permukaan tanah untuk menanggapi permasalahan banjir di daerah urban.
Selebihnya desain ini hanya menawarkan ruang tanpa batas. Tinggal bagaimana sang penghuni menamai ruang tersebut dengan tetap menghargai pola-pola ruang yang telah ada.

Sebab, berarsitektur
yang sesungguhnya adalah
Merasakan ruang…

tidak menang. bahkan nominasi pun tidak. tapi kita tetap bangga dengan desain ini. 🙂

Advertisements

0 Responses to “Urban House”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




M.E

crak crek cruak grauk! i love architecture mostly like wanna eat them everytime :P

F.I.N.D.M.E

K.LIK.KLO.K

November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

T.W.E.E.T

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.


%d bloggers like this: